Terapkan RTMPE Untuk Menjahui Kemiskinan

2860
Bupati Kampar H Jefry Noer saat memberikan pengarahan kepada Camat dan Kades di Aula Desa Pulau Permai Kecamatan Tambang

PEMERINTAH Daerah Kabupaten Kampar, Riau, terus menggencarkan Program Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE) untuk menzerokan kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh, bahkan untuk menjadikan masyarakat menjadi kaya raya dan Insya Allah masuk surga.
Bupati Kampar H Jefry Noer,SH mengatakan itu saat menjelaskan tata kelola RTMPE yang sebenarnya dengan para petani Desa Pangkalan Serik, Kecamatan Siak Hulu dan Desa Pulau Permai, Kecamatan Tambang di lokasi RTMPE Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu.
Jefry menjelaskan, bahwa RTMPE nantinya bisa membawa masyarakat kaya dan masuk surga karena program tersebut merupakan program sederhana dan berada di lingkuran rumah yang dikelola oleh rumah tangga itu sendiri.
Penguninya kata dia bisa kaya karena lewat program ini, penghuninya akan bisa memiliki penghasilan lebih kurang Rp10 juta sampai R 25 juta setiap bulannya. Karena keluarga RTMPE setiap harinya tidak lagi memikirkan pengeluaran untuk membeli gas elpiji untuk memasak.
“Jika sudah menjalankan RTMPE, maka akan ada biogas dari urine sapi yang bisa dipergunakan untuk memasak setiap harinya, selain itu juga tidak perlu lagi untuk membeli ikan, daging, ayam, cabai, bawang serta sayur-sayura karena juga telah tersedia di lahan RTMPE,” katanya lagi.
Selain itu, lanjut dia, keluarga RTMPE setiap harinya hanya akan sibuk di rumah sehingga tak ada lagi waktu untuk bepergian tampa tujuan atau hanya untuk ngrumpi yang berpotensi menambah dosa.
“Makanya RTMPE dibuat sesedrhana mungkin dan di sekitar pekaranagan rumah, agar para bapak ketika bangun subuh, langsung shalat subuh dan lanjut dengan membersihkan kandang sapi dan memberi makan ternak di perkarangan RTMPE.
Sementara ibu atau isterinya, lanjut dia, membersihkan kebun bawang, cabai serta sayur-sayuran. Sementara anak, sebelum berangkat ke sekolah bisa membantu orang tua untuk mengumpulkan telur ayam.
Usai bekerja, kata dia, bapak dan ibu sarapan, shalat dhuha serta istirahat sejenak dan anak lanjut ke sekolah. Siang kemudian kembali shalat, tidur sebentar dan kembali mengontrol RTMPE. “Begitulah setiap harinya maka Insya Allah akan diterima oleh Allah hingga masuk surga,” kata Jefry.
Untuk diketahui, bahwa keluarga yang menjalankan Program RTMPE juga akan memiliki tabungan anak sapi, dimana hasil dari tabungan sapi tersebut Insya Allah bisa nantinya untuk suami isteri naik haji.
“Sebab dari 6 sapi yang dipelihara menghasilkan masing-masing 1 ekor saja pertahun maka hasilnya setahun 6 ekor. Apabila 1 ekor dijual dengan harga Rp 8 juta saja maka hasilnya sudah Rp48 juta dikali 3 tahun maka Rp 144 juta,” katanya.*

Dengan RTMPE Penghasilan Menjanjikan


Bupati Kampar H Jefry Noer Tinjau Lahan gambut di lokasi RTMPE Kubang Jaya
LAHAN gambut sekarang sudah bisa di tanam bawang, siapa sangka di lahan gambut, bawang pun bisa tumbuh subur. Penegasan itu disampaikan Bupati Kampar H.Jefry Noer ketika di kunjungi oleh tim media MNC Group dari pusat saat berkunjung ke lokasi Rumah Tangga mandiri Pangan dan Energi (RTMPE), Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu,selasa (23/9)
Ketertarikan tim MNC group untuk melihat langsung gebrakan yang di lakukan Bupati Kampar ini disebabkan lahan yang di kembangkan itu adalah lahan gambut, karena di lahan gambut biasanya tanaman bawang sulit untuk tumbuh subur.
Tetapi di Kampar membuktikan semua itu tidak benar, sebaliknya tanaman bawang dapat tumbuh subur bahkan melebihi hasil dari daerah asal terkenal sumber penghasil bawang seperti di daerah Brebes.
Jefry Noer menjabarkan, kuncinya dengan bekal ilmu semua dapat dilakukan seperti untuk menetralkan Ph tanah di lahan gambut yang banyak mengandung asam, sehingga Ph tanah cocok untuk tanaman bawang, belum lagi pemilihan bibit unggul, cara merawat tanaman, kalau sudah memiliki ilmunya maka semua dapat dilakukan dengan member hasil baik, ungkap Jefry.
Di sini di lahan RTMPE, sebagai percontohannya, kata Jefry melanjutkan, dimana sebelumnya petani di latih dan di didik di pusat pelatihan pertanian pedesaan swadaya (P4S), setelah menamatkan diklat pertaniannya di tambah dengan bantuan modal usaha seperti bantuan sapi bergulir dan sapi dari program CSR perusahaan kemudian di tambah pinjaman uang dari program KKPE dari bank Riau Kepri petani dari dapat berusaha mengembangkan di rumah atau wilayah sekitar rumahnya dengan lahan hanya 1 000 meter saja.
Di lahan itu dapat dikembangkan peternakan sapi, perikanan, pertanian dan rumah jamur yang dapat memberikan penghasilan hingga puluhan juta bagi petani, seperti penghasilan dari 6 ekor sapi dapat member hasil seperti dari urinenya yang dapat dijadikan pupuk cair atau biourine kemudian penghasilan dari kotoran padat sapi sebagai penghasil biogas yang dapat di gunakan untuk keperluan energy listrik maupun untuk memasak petani.
Ditambah lagi penghasilan dari ternak ayam petelur dengan pola kawin silang yang di pelihara sebanyak seratur ekor dapat menghasilkan telur sebanyak 60 hingga 70 butir perhari.
Dari dua komoditi ternak itu saja sudah puluhan juta penghasilan dalam sebulan untuk petani, itu dari hasil utamanya yaitu dari kotoran sapi dan telur, belum lagi hasil dari daging ayam nya kalau sudah lebih lama di pelihara tentu ayamnya tambah besar begitu juga dagingnya ditambah lagi penghasilan dari anak sapi yang di pelihara kalau sudah tiga tahun saja tentu anak sapi yang di hasilkan bias sampai dua kali lipatnya,kata Jefry.
Setelah itu dari perikanan dengan pola pengembangan ternak perikanan terpal, ditambah penghasilan dari pertanian seperti tanaman bawang, mampu di tanam di han 1 000 meter tadi hanya memakan lahan seluas 400 meter dan bermodalkan tanaman bawang sebanyak 50 Kg mampu menghasilkan hingga 400 sampai 500 kg bawang.
Ke depan apapun dapat dilakukan dan dikembangkan di lahan gambut asalkan memiliki ilmu,kata Jefry dengan semangat mengulas RTMPE, dan upaya ini mampu di lakukan semua Petani khususnya petani Kampar ke depan.
Ditambahkan Jefry Noer, Konsep unggulan pemda Kampar dalam membangun dan mensejahterakan masyrakatnya agar terlepas dari kemiskinan, pengangguran dengan menerapkan pola RTMPE, bahkan dengan menjalankan program RTMPE para petani Kampar ke depannya mampu mengangkat derajat dan mensejahterakan ekonomi petani, sehingga melalui program RTMPE yang di khususkan bagi masyarakat miskin nantinya mampu menciptakan petani miskin jadi kaya kemudian masuk sorga,kata Jefry.
Kenapa hal itu bisa terjadi, ungkap Jefry sambil mencontohkan, di pagi hari sehabis sholat shubuh, Bapak nya mengurusi ternak kemudian dibantu anak sebelum berangkat sekolah kemudian ibunya mengurus lahan pertanian.
Setelah itu si anak berangkat sekolah kemudian dan orang tua melanjutkan kerja, sampai pukul 9 pagi kerjaan mengurus ternak, ikan maupun pertanian sudah beres, mereka istirahat sambil beribadah melaksanakan sholat dhuha dan siangnya sampai sore baru control lagi areal RTMPE, begitu setiap hari.
Dalam setahun hingga tiga tahun waktu berjalan sudah berapa juta uang terkumpul ditambah penghasilan dari anak sapi yang menjanjikan uangnya hingga mampu membiayai petani untuk naik haji pula,ungkap Jefry menutup menjelasannya.*

Di Kampar Bawang Subur

Bupati Kampar Jefry Noer meninjau lahan gambut tanaman bawang di lokasi RTMPE
Bupati Kampar Jefry Noer meninjau lahan gambut tanaman bawang di lokasi RTMPE
Bupati Kampar H Jefry Noer,SH saat menjelaskan RTMPE kepada petani Desa Pangkalan Serik Kec Siak Hulu dan Desa Pulau Permai
Bupati Kampar H Jefry Noer,SH saat menjelaskan RTMPE kepada petani Desa Pangkalan Serik Kec Siak Hulu dan Desa Pulau Permai

Bupati Kampar Provinsi Riau, Jefry Noer mengatakan, siapa sangka di lahan gambut ternyata bawang pun bisa tumbuh subur hingga mendatangkan hasil yang menjanjikan bagi masyarakat.
Jefry Noer mengatakan itu saat mendampingi Tim MNC Grup yang datang meninjau lokasi percontohan Program Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE), Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu.
Ketertarikan para awak media nasional itu untuk melihat langsung gebrakan yang di lakukan Bupati Kampar ini disebabkan lahan yang di kembangkan itu adalah lahan gambut, karena di lahan gambut biasanya tanaman bawang sulit untuk tumbuh subur.
“Kampar membuktikan bahwa semua itu tidak benar, sebaliknya tanaman bawang dapat tumbuh subur bahkan melebihi hasil dari daerah asal terkenal sumber penghasil bawang seperti di Brebes,” kata Jefry.
Kuncinya, lanjut dia, dengan bekal ilmu semua dapat dilakukan seperti untuk menetralkan “PH” atau kadar asap air dalam tanah di lahan gambut, sehingga tanah cocok untuk tanaman bawang.
“Belum lagi pemilihan bibit unggul, cara merawat tanaman, kalau sudah memiliki ilmu maka semua dapat dilakukan dengan hasil baik,” katanya.
Lewat lahan percontohan Program RTMPE, kata Jefry, para petani di latih dalam Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S), setelah menamatkan diklat pertaniannya di tambah dengan bantuan modal usaha seperti bantuan sapi bergulir dan sapi dari Program CSR perusahaan kemudian di tambah pinjaman uang dari program KKPE dari Bank Riau Kepri, maka petani dapat berusaha mengembangkan program ini di rumah atau di wilayah sekitar rumahnya dengan lahan hanya 1.000 meter persegi.
“Di lahan itu dapat dikembangkan peternakan sapi, perikanan, pertanian dan rumah jamur yang dapat memberikan penghasilan hingga puluhan juta rupiah bagi petani,” kata Jefry.
Jefry melanjutkan, bahwa dari 6 ekor sapi yang dipelihara lewat Program RTMPE, akan dapat memberikan hasil seperti dari urinenya yang dapat dijadikan pupuk cair atau biourine kemudian penghasilan dari kotoran padat sapi sebagai penghasil biogas yang dapat digunakan untuk keperluan energi listrik maupun untuk memasak keluarga petani.
“Ditambah lagi penghasilan dari ternak ayam petelur dengan pola kawin silang yang di pelihara sebanyak seratur ekor dapat menghasilkan telur sebanyak 60 hingga 70 butir perhari,” katanya lagi.
Dari dua komoditi ternak itu saja, demikian Jefry, sudah puluhan juta rupiah penghasilan dalam sebulan untuk keluarga petani.
“Itu masih dari hasil utamanya yaitu dari kotoran sapi dan telur, belum lagi hasil dari daging ayamnya kalau sudah lebih lama di pelihara tentu ayamnya tambah besar begitu juga dagingnya. Belum lagi penghasilan dari anak sapi yang di pelihara kalau sudah tiga tahun saja tentu anak sapi yang di hasilkan bisa sampai dua kali lipatnya,” kata Jefry.
Setelah itu, lanjut dia, dari perikanan dengan pola pengembangan ternak perikanan terpal, ditambah penghasilan dari pertanian seperti tanaman bawang yang hanya memakan lahan seluas 400 meter dan bermodalkan tanaman bawang sebanyak 50 kg mampu menghasilkan hingga 400 sampai 500 kg bawang.
Ke depan, kata Jefry, apapun dapat dilakukan dan dikembangkan di lahan gambut asalkan memiliki ilmu. “Dengan semangat mengulas RTMPE, dan upaya ini mampu di lakukan semua petani khususnya petani Kampar ke depan,” katanya.

Jefry Noer menambahkan, konsep unggulan Pemda Kampar dalam membangun dan menyejahterakan masyrakat agar terlepas dari kemiskinan, pengangguran adalah dengan menerapkan Program RTMPE.
Bahkan dengan menjalankan Program RTMPE, lanjut dia, para petani Kampar ke depannya akan mampu mengangkatkan derajat dan menyejahterakan ekonomi keluarga.
“Sehingga melalui program ini yang di khususkan bagi masyarakat miskin, nantinya akan mampu menciptakan petani kaya kemudian Insya Allah masuk surga,” kata Jefry.
Kenapa hal itu bisa terjadi, ungkap Jefry sambil mencontohkan, di pagi hari sehabis Shalat Subuh, bapaknya mengurus ternak kemudian dibantu anak sebelum berangkat sekolah kemudian ibunya mengurus lahan pertanian.
“Setelah itu si anak berangkat sekolah kemudian dan orang tua melanjutkan kerja, sampai pukul 9 pagi mengurus ternak, ikan maupun pertanian sudah beres, mereka istirahat sambil beribadah melaksanakan shalat dhuha dan siangnya sampai sore baru control lagi areal RTMPE, begitu setiap hari,” katanya.
Dalam setahun hingga tiga tahun waktu berjalan, lanjut dia, sudah berapa juta uang terkumpul ditambah penghasilan dari anak sapi yang menjanjikan uangnya hingga mampu membiayai petani untuk naik haji pula.*

Komentar Facebook