MENJAGA TRADISI BALIMAU KASAI.

294

Tradisi balimau kasai adalah warisan leluhur negeri sumatra ini. Namun, memang tidak ada referensi yang valid tentang hal ihwal mulanya tradisi ini. Pelaksanaannya terus berkembang dan berevolusi. Pada saat ini, Evolusi dan perkembangan tradisi ini sangat mengkhawatirkan. Sudah masuk pada tahap maksiat, dan disisi yang lain sudah masuk pada tahap penistaan.

Bagi saya pribadi, balimau kasai adalah tradisi yang layak untuk dijaga dan dipertahankan. Dijaga dari perusakan. Dijaga dari penistaan. Dan dijaga dari tangan-tangan jahil.

Tradisi ini sudah banyak berubah? memang. Makanya disebut evolusi. Saya merasakan, balimau kasai sekarang ini sangat jauh dari tradisi luhur turun temurun. Unsur kemaksiatan lebih besar dari unsur budaya yang terkandung di dalamnya. Mandi yang berkumpul antara laki-laki perempuan, menggunakan alat musik yang tak sepantasnya disebut memeriahkan ramadhan.

Unsur budaya yang terkandung dalam balimau kasai sudah banyak terkikis. sudah jarang sekarang anak kemenakan yang “manjalang” mamak dan tetua kampung. Mereka malu, mereka gengsi membawa makanan ringan keliling kampung. Sudah jarang juga kampung yang melaksanakan arak-arakan keliling kampung.

Bahkan, sudah banyak juga anak gadis yang lupa cara membuat ramuan-ramuan untuk mandi bersuci di sore harinya. Yang tinggal hanya kegiatan live music,mandi bercampur, dan hilir mudik anak muda yang non muhrim. Miris dan sangat miriss.

Hal ini juga diperparah oleh pihak lain yang gagal paham, yang tidak bijak dan arif melihat persoalan. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena marah ke tikus, gudang beras yang dibakar. Saya gagal paham ketika ada sebagian orang yang mengatakan balimau kasai adalah produk budaya hindu? Heuhh…. emang manjalang mamak dan karib kerabat itu orang hindu yang punya? mandi balimau juga orang hindu juga yang punya? Emang orang hindu juga menyambut ramadhan? Emang orang hindu juga arak2 keliling kampung? ATAU, di bagian mananya lagi yang menyebut bahwa balimau kasai ini tradisi hindu?

Harusnya, kita selaku anak bangsa menjaga tradisi baik ini seperti orang arab yang menjaga tradisi baiknya. Berat? memang. Butuh waktu lama? Memang.

Saya rasa persoalan pelurusan tradisi ini bukanlah hal yang susah. Tinggal ada atau tidak keinginan bersama. Dulu, maraknya kegiatan hiburan malam pada pesta anak kemenakan bisa kita hilangkan dengan membuat aturan oleh pemerintah, adat, dan agama yang melarangnya. Dan, Masih berjalan hingga sekarang. Walau memang ada juga yang mbandel. Begitu juga hal ini, saya yakin juga bisa dilakukan. Dengan kekompakan umaro, ulama dan tokoh adat.

Untuk itu, sangat besar harapan kita bersama untuk menjaganya. Karena tak mungkin orang arab yang menjaganya. Jangan sampai kearifan lokal ini hilang di generasi kita sekarang ini. Jangan sampai kita diberi tinta merah oleh anak cucu kita nantinya hanya karena kegagalan sebagian dari kita.

Capek nulis, akhir kata, sebagai salah satu tradisi balimau kasai, saya mohon maaf maaf jik salah bertutur, salah bersikap, salah memaknai. Maklum, silaf dn khilaf adalah takdir kita selaku manusia. Semoga ramadhan ini menjadi ramadhan terbaik bagi kita semua. Wassalam

Salo Timur, 5 Juni 2016.

Oleh Mawardi Tombang

Penulis adalah : Wartawan

 

Komentar Facebook