BATU AKIK KAMPAR – RIAU

2073

Catatan Pemred SANGGAM.info

Pendahuluan

Rasanya tak ada lelaki yang tak hoby memakaimencari-batu-akik-kampar
perhiasan, khususnya cincin. Apakahitu cincin terbuat dari logam mulia, sampai pada besi putih. Namun yang pasti hampir semua lelaki menggemari cincin berbatu akik.

Begitu juga dengan saya. Meski awalnya saya lebih tertarik untuk membeli cincin besi putih untuk
menghiasi jemari tanganku. Itu tentu saja hanya sebuah cincin saja yang menggelayut pada jemari tanganku, tak lebih tak kurang.
Dalam pandangan saya awalnya merasa risih berada didekat orang yang memakai cincin akik lebih dari satu, apalagi sampai memenuhi jemari tangan dus batu-batunya besar-besar lagi.
Itu awalnya, namun sekarang saya menjadi salah seorang pencinta Batu Akik, bahkan malah menjadi salah seorang yang paling saya tak suka tadi, yakni memakai cincin berjejer di jemari tanganku.
Awal Mula Kenal Batu Akik

Bagaimana kisahnya?
Suatu ketika naluri wartawanku terusik nak bikin tulisan tentang batu akik. Kebetulan ketertarikan saya itu lantaran sering betul kuping saya menangkap pembicaraan kalangan pria di perkantoran Bupati Kampar dan di DPRD Kampar serta di banyak tempat lainnya, bahwa di Kecamatan Kuok tepatnya di Desa Rimba Melintang sekarang lagi bejibun para pemburu batu akik.

Rasa penasaran tentu. Dan hari itu sabtu pada bulan Mei 2014. aku berangkat ke spot pencarian batu akik. Aku tak membawa peralatan apa-apa selain sebuah martil yang diwanti-wanti adik-adikku untuk memecah batu yang gunanya tentu untuk mengupas kulit bebatuan yang dirasa mencurigakan berisi motif-motif menarik untuk dijadikan cincin batu akik.

Sesampainya di lokasi, kami memarkirkan kendaraan roda dua kami batas kebun karet dan kebun jeruk kampung. Sebuah tulisan pada sehelai papan bertuliskan, [pull_quote_center]DILARANG MEMBAWA KENDARAAN KE LOKASI[/pull_quote_center]
Yang segera kuterjemahkan bahwa lokasi yang dimaksud adalah lokasi mencari batu akik.

Aku ogah dibawa ke daerah jauh ke hulu sungai yang biasa disebut Sungai Maniok. Badan sungai berukuran lebih kurang 3-4 meter dengan lebar aliran sekitar 1-2 meter. Adik-adikku Mahyaruddin dan Zulfurqon begitu semangat nyari batu akik. Sedangkan aku setelah tokok sana-tokok sini, tak jumpa batu yang dimaksud, lebih memilih menghisap rokok berbatang-batang sembari minum minuman kaleng.

Tentu saja berkali-kali aku harus berdiri melihat hasil buruan kedua orang tersebut. aku kurang puas dengan hasil buruan mereka. Namun, beberapa waktu kemudian secara iseng aku mencongkel-congkel tumpukan pasir bercampur kerikil dekat dudukku. “Buhh, aku mendapat sebuah batu berwarna merah madu. Aku mulai girang.

Dalam hati aku berkata, [quote_box_center]Kalau batu ini saja ada disini, berarti benarlah banyak batu akik yang bagus-bagus,[/quote_box_center] Begitu pikirku kala itu. Pencarian batu kami kali ini dus untuk pertama kalinya, menghasilkan batu-batu yang lumayan cantik buatku.

Malamnya aku tak bisa tidur. Aku punya pikiran jelek. Jangan-jangan di sana banyak batu akik yang bernilai jual tinggi. [quote_box_center]Akh, alih hobi dari mancing ke berburu batu akik agaknya aku nich lagi,[/quote_box_center] Pikirku. Rasa penasaranku tersebut sampai pada hari senen sore.

Akhirnya, sejak saat itu, bila ada waktu luang sehabis jalankan profesi wartawanku, aku sempatkan mencari batu akik di Sungai Maniok Desa Bukit Melintang Kecamatan Kuok tersebut. saat ini, tanggal 26 Agustus 2014, bebatuan yang bermotif dan bernilai sudah terkumpul sebanyak 10 goni isi 10 kg.

Dari sekian banyak materi batu yang sudah terkumpul inilah baru yang sempat saya asah menjadi cincin. Jadilah sekarang hampir setiap saya bepergian, jemari saya dipenuhi cincin akik berbagai motif. (redaksi SANGGAM.info)

Komentar Facebook